Papua Mountaineering Association (PMA)

Papua Mountaineering Association (PMA) adalah organisasi profesional, independen, dan nirlaba yang berperan sebagai wadah koordinasi, pembinaan, dan penguatan tata kelola kegiatan pendakian gunung serta ekspedisi alam bebas di Tanah Papua, khususnya pada kawasan pegunungan bernilai konservasi tinggi seperti Taman Nasional Lorentz.
PMA hadir untuk mendukung penyelenggaraan pendakian gunung yang aman, tertib, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, sejalan dengan kebijakan dan regulasi pemerintah, termasuk Standar Operasional Prosedur (SOP) Pendakian di Taman Nasional Lorentz sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Kepala Balai Taman Nasional Lorentz Nomor SK.33/T.27/TU/KSA.04.01/09/2025.
Dalam pelaksanaannya, PMA berkomitmen pada prinsip Zero Accident dan Zero Waste, dengan mengedepankan standar keselamatan pendakian, pengelolaan risiko, perlindungan ekosistem, serta penghormatan terhadap nilai sosial budaya dan hak masyarakat adat Papua. PMA mendorong penerapan praktik pendakian yang sesuai dengan SNI Pengelolaan Pendakian Gunung, prinsip konservasi kawasan pelestarian alam, serta etika wisata alam berkelanjutan.
Sebagai mitra strategis, PMA bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Lorentz, pemerintah daerah, operator pendakian (Trekking Organizer), pemandu gunung, serta masyarakat lokal, dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, profesionalisme layanan pendakian, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Melalui peran pembinaan, standardisasi, dan advokasi, PMA berupaya memastikan bahwa kegiatan pendakian di Papua tidak hanya memberikan manfaat wisata dan ekonomi, tetapi juga menjaga keselamatan manusia, kelestarian ekosistem pegunungan, serta keberlanjutan kawasan konservasi untuk generasi mendatang.

KITA MEMBANGUN DUNIA DENGAN MENJAGA LINGKUNGAN KITA SENDIRI

Visi

Menjadi lembaga mountaineering profesional dan terpercaya dalam pengelolaan dan pengembangan kegiatan pendakian di Papua yang aman dan berkelanjutan, berstandar internasional, menerapkan praktik keselamatan serta manajemen risiko yang terukur, menghormati kearifan lokal, serta berkomitmen pada pelestarian ekosistem pegunungan dan penguatan sosial–ekonomi masyarakat setempat.

Misi

Tata Kelola & Regulasi Pendakian
Menetapkan standar operasional, keselamatan, dan pelayanan pendakian yang terukur dan terakreditasi.
Melakukan audit kepatuhan operator secara berkala untuk memastikan kualitas dan keamanan layanan.
Menyusun dan mengawasi implementasi SOP pendakian yang selaras dengan ketentuan pemerintah dan konservasi.
Untuk bertindak sebagai mitra utama pemerintah dalam pengaturan pariwisata minat khusus, serta dalam pelatihan dan sertifikasi pemandu gunung.
Keselamatan & Kesiapsiagaan

Mengembangkan sistem manajemen risiko pendakian (risk assessment, rescue protocol).

Menyiapkan pelatihan wajib bagi operator/guide: navigasi gunung, SAR, survival, first aid, dan manajemen ekspedisi.

Membangun jaringan komunikasi dan jalur evakuasi yang efektif di wilayah pegunungan Papua.

Pelestarian Lingkungan & Budaya Lokal

Menetapkan standar low-impact mountaineering dan zero waste policy bagi setiap operator.

Berkolaborasi dengan masyarakat adat dalam perlindungan kawasan sakral dan konservasi.

Mendorong praktik pendakian yang menghormati adat, budaya, dan hak masyarakat lokal.

Pengembangan Pariwisata Gunung Papua

Memfasilitasi pengembangan destinasi pendakian berkelas dunia, termasuk Carstensz Pyramid, Lorentz, dan wilayah pegunungan lainnya.

Meningkatkan kualitas SDM pendakian: guide lokal, porter, operator, dan tenaga pendukung.

Menjalin kolaborasi strategis dengan pemerintah, lembaga internasional, dan komunitas pendaki global.

Untuk mewakili Papua dan Indonesia di bidang pariwisata minat khusus, baik secara nasional maupun internasional, dengan fokus utama pada pendakian gunung.

Untuk mewakili Papua dan Indonesia di bidang pariwisata minat khusus, baik secara nasional maupun internasional, dengan fokus utama pada pendakian gunung.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Memberikan porsi signifikan bagi masyarakat lokal dalam ekosistem pendakian (guide, porter, homestay, logistik).

Menyelenggarakan program pelatihan dan sertifikasi profesi bagi masyarakat pegunungan.

Mengembangkan model ekonomi lokal berbasis wisata petualangan yang berkelanjutan.

Untuk melibatkan suku-suku lokal yang tinggal di dekat gunung-gunung tersebut dalam membangun ekosistem pariwisata minat khusus sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi. Ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada, pengembangan Prosedur Operasi Standar (SOP) untuk pendakian gunung, penyediaan pemandu lokal, dan peralatan pendukung pendakian gunung.

Dokumentasi, Penelitian, dan Pendidikan

Mengembangkan pusat data pendakian Papua: rute, statistik pendaki, cuaca, risiko, dan konservasi.

Mendorong penelitian tentang keselamatan, geologi, budaya, dan lingkungan pegunungan Papua.

Menyediakan program edukasi dan kampanye publik tentang keselamatan dan konservasi gunung.

STRATEGIC APPROACH

The Papua Mountaineering Association (PMA) aims to make Puncak Jayawijaya and other mountains in Papua internationally recognized
special interest tourism destinations.

The Papua Mountaineering Association (PMA) aims to make Puncak Jayawijaya and other mountains in Papua internationally recognized special interest tourism destinations.

CARTENSZ AS ONE OF THE SEVEN SUMMITS

The Seven Summits represent the highest peaks on each of the world’s continents—Asia, Europe, the Americas, Africa, and Antarctica. Asia is represented by two peaks: Carstensz Pyramid and Mount Everest, the highest mountain in the world. The idea of the Seven Summits was first introduced by Dick Bass, an American mountaineer. In his original list, however, he did not include Carstensz Pyramid; instead, he listed Mount Kosciuszko as the representative peak for Australia.
Seven Summits Dick Bass began his Seven Summits journey by climbing Aconcagua in 1983 and completed it by reaching the summit of Mount Everest in 1985. However, not all mountaineers agreed with his version of the list. One of them was Reinhold Messner, a legendary climber from Austria, who proposed replacing Mount Kosciuszko with Carstensz Pyramid. This view was further supported by Canadian mountaineer Patrick Allan Morrow. Both of them had completed the Seven Summits as outlined by Dick Bass, but with Carstensz Pyramid included as the representative peak for Oceania.

Eventually, two versions of the Seven Summits emerged: the Bass version and the Messner version. Over time, Reinhold Messner’s version became more widely accepted among climbers—likely because the terrain of Carstensz Pyramid is far more challenging and technical compared to that of Mount Kosciuszko.

Carstensz Pyramid stands as the highest point in the Sudirman Range, located within Lorentz National Park, Papua Province. Not only is it the highest peak in Indonesia (and arguably the hardest to pronounce), Carstensz Pyramid—composed primarily of limestone—is also recognized as the highest peak in Australasia and one of the renowned Seven Summits of the world. There are two commonly used routes to reach the summit: via Ilaga (Puncak Regency) and Sugapa (Intan Jaya Regency).

However, before attempting to climb Carstensz, it’s essential to be well-equipped with proper mountaineering and rope skills, as these are absolutely required for the technical terrain. For climbers aiming to complete all Seven Summits, several international tour operators offer comprehensive packages.

One of the pioneers is the American Alpine Institute (AAI), which has been organizing Seven Summits expeditions since 1975. According to its official website, the climbing costs for each summit are as follows: Mount Kilimanjaro – US$3,460 (approx. Rp 39 million) Mount Elbrus – US$4,950 (approx. Rp 56 million) Aconcagua – US$4,300 (approx. Rp 48 million) Denali – US$6,800 (approx. Rp 77 million) Mount Vinson – US$39,500 (approx. Rp 447 million) Carstensz Pyramid – US$18,500 (approx. Rp 209 million) Mount Everest – US$65,000 (approx. Rp 736 million)

That is why the Papua Mountaineering Association (PMA) was established—to take part in managing this highly promising tourism and economic potential. The goal is for it to be led by the nation’s own people, especially Papuans and their indigenous communities, so they too can benefit and prosper from these opportunities.